Kamis, 17 Desember 2015

Strategi Komunikasi Petani Dalam Difusi Inovasi Padi Organik

Strategi Komunikasi Petani Dalam Difusi Inovasi Padi Organik 
Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian yang didesain dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan produktivitas yang berkelanjutan. Prinsip pertanian organik yaitu tidak menggunakan atau membatasi pengunaan pupuk anorganik serta harus mampu menyediakan hara bagi tanaman dan mengendalikan serangan hama dengan cara lain di luar cara konvensional yang biasa dilakukan. Tujuan utama pertanian organik adalah memperbaiki dan menyuburkan kondisi lahan serta menjaga keseimbangan ekosistem, salah satu hasilnya yaitu padi organik yang digalakkan pemerintah dalam pembudidayaannya. Padi organik merupakan padi yang ditanam tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Penanamannya menggunakan pupuk alami, hamanya dikendalikan dengan menggunakan musuh alami atau predator, tidak membahayakan lingkungan dan dijamin sehat untuk dikonsumsi, rasanya lebih enak, aromanya lebih wangi dan tidak mudah basi (Sriyanto, 2010).

Suatu inovasi tidak akan diadopsi oleh petani apabila tidak disebarkan (difusi) secara intensif. Penyuluh pertanian merupakan salah satu agen pembaharu yang memiliki peran penting dalam kegiatan difusi inovasi. Keberhasilan penyuluhan bukan hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan saja tetapi teknik penyampaian juga memegang peranan penting dalam kegiatan keberhasilan penyuluhan pertanian. Oleh karena itu diperlukan strategi komunikasi agar suatu inovasi dapat didifusikan kepada petani. Dengan adanya strategi komunikasi yang efektif maka akan mempermudah penyuluh dalam menyampaikan materi dengan berbagai macam cara sesuai dengan pendekatan yang dilakukan. Apabila inovasi sudah didifusikan secara efektif maka akan berdampak terhadap perubahan perilaku petaninya.

Strategi Komunikasi adalah suatu cara untuk mengatur pelaksanaan proses komunikasi sejak dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi, untuk mencapai suatu tujuan. Strategi Komunikasi bertujuan agar pesan mudah dipahami secara benar oleh penerima, peerima pesan dapat dibina dengan baik dan kegiatan dapat termotivasi untuk dilakukan (Fajar, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penyusunan strategi komunikasi ialah : 
  1. Mengenali sasaran; 
  2. Pemilihan mediadan 
  3. Pengkajian tujuan pesan. 
Komunikasi yang efektif mengandung pengiriman dan penerimaan informasi yang paling cermat, pengertian pesan yang mendalam oleh kedua pihak dan pengambilan tindakan yang tepat terhadap penyelesaian pertukaran informasi. Beberapa hal yang diperlukan untuk komunikasi yang efektif adalah sebagai berikut: 
  1. Penerangan ringkas yang cukup dari penerima, 
  2. Penggunaan bahasa yang sesuai, 
  3. Kejelasan, 
  4. Penggunaan media yang tepat (Moekijat, 1993).
Secara umum tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah terciptanya strategi komunikasi yang efektif dalam difusi inovasi pada program-program pembangunan.Secarak husus tujuan penelitian ini adalah Merancang strategi komunikasi petani dalam difusi inovasi padi organik dan hubungannya dengan perilaku petani di Kelurahan Pulokerto Kota Palembang,

MetodePenelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pulokerto Kota Palembang. Tempat penelitian dipilih secara sengaja (purposive) terhadap petani yang melakukan budidaya padi semi organik. Waktu penelitian dilaksanakan Mei sampai dengan Nopember 2014. Metode penelitian termasuk metode studi kasus (case study) terhadap petani yang terpilih, dari petani yang terpilih diambil keseluruhan petani yang melakukan budidaya padi organik (sensus) sebagai responden. 

Perancangan strategi komunikasi petani dalam difusi inovasi padi semi organikdibuat berdasarkan analisis SWOT.

Hasildan Pembahasan
A. Identitas Petani Contoh
Petani contoh yang diambil dalam penelitian ini merupakan petani yang mengusahakan usahatani padi semi organik. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhannya petani memiliki pekerjaan sampingan sebagai buruh bangunan dan mencari ikan (nelayan). Identitas petani contoh pada penelitian ini digolongkan berdasarkan umur, pendidikan, pengalaman, pekerjaan sampingan dan jumlah anggota keluarga.

Tingkat umur mempunyai pengaruh terhadap produktivitas dalam pekerjaan. Pada umumnya semakin tinggi umur maka kemampuan kerja akan semakin meningkat sampai batas tertentu yang kemudian menurun. Seseorang berada dalam usia produktif akan bekerja lebih efektif dibandingkan yang telah berusia lanjut. Umur petani contoh di daerah ini bervariasi, rata-rata umur petani contoh adalah 48 tahunartinya umur petani tersebut tergolong usia produktif. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa umur petani berada pada usia produktif yaitu antara 39 - 48 tahun (56,67%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara fisik petani masih mampu bekerja mengolah usahataninya dan melakukan aktivitas ekonomi sehingga akan menghasilkan pendapatan yang lebih baik pula.

Tingkat pendidikan juga mempunyai pengaruh bagi petani dalam menjalankan usahataninya, karena dengan pendidikan yang tinggi dapat membantu petani dalam mengambil suatu keputusan apabila petani dihadapkan oleh beberapa masalah yang berkaitan dengan kegiatan usahatani yang dilakukannya. Tingkat pendidikan petani di di Kelurahan Pulokerto Kecamatan Gandus rata-rata adalah tamatan SD. Pengetahuan petani contoh cukup baik dalam berusahatani walaupun pendidikan formal yang ditempuh paling tinggi hanya sampai dengan SMP. Untuk petani rata-rata tidak tamat Sekolah Dasar (SD) berjumlah 7 orang (23,33%), tamat SD berjumlah 20 orang atau 67,67 persen dan petani yang tamat SMP berjumlah 3 orang atau 10 persen. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa masih ada petani yang tidak tamat SD, tetapi sebagian besar sudah mengenyam pendidikan. Pada tabel terlihat bahwa persentase petani yang paling tinggi adalah petani yang tamat SD. Perbedaan tingkat pendidikan petani sampel ini mempengaruhi pola pikir mereka dalam mengelola usahatani yang dimiliki juga mempengaruhi penerimaan dan pendapatan mereka. 

Pengalaman merupakan lama tidaknya mereka mengikuti budidaya padi, karena merupakan turun temurun. Rata-rata pengalaman berusahatani padi di Kelurahan Pulokerto adalah 33 tahun, dimana sebaran pengalaman petani responden berkisar antara 20-30 tahun dan 30-40 tahun yaitu masing-masing sebanyak 46,67 persen.

Dilihat dari pekerjaan sampingan petani, sebagian besar petani setempat tidak memiliki pekerjaan sampingan. Mereka cenderung bekerja sebagai buruh tani (tenaga upahan) dan nelayan. Hal ini ditunjang dari lokasi yang cukup jauh dari pusat kota karena lokasinya yang agak terpelosok. Sehingga untuk akses mencari pekerjaan keluar mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk biaya transportasi.

Jumlah anggota keluarga dapat diketahui besarnya jumlah orang yang tinggal bersama dalam rumah tangga tersebut, baik istri, suami, anak-anak ataupun keluarga lain seperti orang tua, keponakan ataupun cucu. Besar kecilnya anggota rumah tangga petani juga merupakan salah satu faktor yang menentukan aktivitas petani dalam mengelola usahataninya. Petani dengan jumlah anggota keluarga yang besar biasanya merupakan sumber tenaga kerja yang besar bagi usahataninya dan pemacu semangat untuk lebih giat dalam meningkatkan usahataninya atau mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehingga tidak perlu mencari tenaga kerja pembantu untuk membantu dalam mengelola usahatani mereka. Rata-rata jumlah anggota keluarga petani contoh adalah 5 orang, dengan jumlah anggota keluarga yang dominan berkisar 4-6 orang yaitu sebanyak 18 orang (60%). Petani dengan jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit akan memerlukan tenaga kerja tambahan dari luar ataupun menyuruh orang lain untuk mengelola usahatani mereka sehingga memerlukan biaya tenaga kerja yang lebih besar bila dibandingkan dengan petani yang mempunyai jumlah anggota keluarga yang lebih banyak. Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa jumlah anggota rumah tangga petani terlihat cukup bervariasi. 

B. Gambaran Budidaya Padi Semi Organik di Kelurahan Pulokerto
Pulokerto adalah salah satu kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Gandus Kota Palembang, dimana merupakan salah satu daerah Agropolitan yang dikembangkan. Sesuai dengan master plannya, salah satu kawasan yang akan dikembangkan adalah binapolitan dimana rencananya dikhususkan untuk tanaman pertanian dan budidaya perikanan.

Pulokerto memiliki lahan yang luas dan masih cukup prospektif untuk terus dikembangkan dan dibina melalui program-program yang ada. Budidaya padi di Kelurahan Pulokerto merupakan pekerjaan utama yang sudah diusahakan secara turun temurun. Oleh karena itulah mereka memiliki pengalaman usahatani yang tinggi karena sudah terbiasa dari kecil untuk ikut ke sawah. Padi organik merupakan salah satu program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah setempat untuk dikembangkan khususnya di Kelurahan Pulokerto sebagai kawasan Agropolitan. Akan tetapi, program ini belum berjalan dengan baik. Program agropolitan ini merupakan salah satu bentuk perwujudan kota pertanian sebagai kerjasama berbagai sektor. Beberapa waktu lalu gaungnya sempat terhenti karena terkait adanya ego sektoral dan ketergantungan petani setempat dalam mengembangkan kegiatan yang ada.

C. Strategi Komunikasi Petani Dalam Difusi Inovasi Padi Semi Organik 
Strategi komunikasi ini dibuat berdasarkan analisis SWOT. Analisis ini dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai faktor-faktor strategi komunikasi yang dapat diterapkan untuk proses adopsi inovasi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities) dan secara bersamaan meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).

Sebelum dilakukan pengujian dengan rumusan strategi ini, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap proses difusi inovasi tersebut, yaitu faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal tersebut.

a. Faktor-faktor Strategis Intenal (IFAS)
Faktor kekuatan merupakan faktor internal yang sangat mempengaruhi proses komunikasi dalam difusi inovasi padi semi organik di Kelurahan Pulokerto. Faktor ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam proses komunikasi dan difusi inovasi, faktor-faktor tersebut adalah :
  1. Petani tidak kesulitan untuk menyewa ataupun menumpang lahan orang lain untuk melakukan kegiatan usahatani karena rata-rata petani memiliki lahan sendiri 
  2. Kegiatan usahatani dapat dijalankan dengan optimal karena ketersediaan Lahan yang cukup luas ± 1 hektar
  3. Ketersediaan tenaga kerja yang cukup untuk kegiatan pengelolaan usahatani padi organik
  4. Memiliki kultur budaya dan pengalaman usahatani padi yang turun temurun
  5. Usahatani berada di daerah yang maju karena terdapat di ibukota sumatera selatan yaitu kota palembang yang memudahkan petani untuk mengakses pengetahuan lewat berbagai media informasi.
Faktor kelemahan merupakan faktor internal dimana faktor tersebut memberikan pengaruh yang negatif serta menghambat proses komunikasi dalam difusi inovasi padi semi organik yang ada di Kelurahan Pulokerto, sehingga kelemahan ini sangatlah penting untuk diminimalisir sehingga akan memperlancar proses difusi inovasi. 

Faktor-faktor kelemahan tersebut sebagai berikut :
  1. Produktivitas padi relatif rendah
  2. Kurangnya modal petani
  3. Kurangnya pengetahuan petani
  4. Kurang aktifnya penyuluh untuk memberikan penyuluhan kepada petani
b. Faktor-faktor Strategis Eksternal (EFAS)
Peluang yang merupakan bagian dari faktor strategis ekternal, faktor ini akan dapat mengatasi serta mendatangkan pengaruh positif dalam kegiatan yang akan dijalankan. Faktor peluang tersebut adalah:
  1. Trend pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan organik yang sedang marak di kalangan masyarakat sekarang ini menyebabkanPermintaan padi organik mulai cukup tinggi
  2. Harga jual yang relatif tinggidi pasaran memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan yang cukup besar 
  3. Teknik budidaya yang mudah diadopsi
  4. Biaya yang murah
  5. Di canangkannya Sumatera Selatan oleh pemerintah sebagai Lumbung pangan nasional mengharuskan petani untuk terus meningkatkan hasil produktifitas.
Ancaman merupakan bagian dari faktor strategis eksternal, faktor ini akan mendatangkan pengaruh negatif dalam kegiatan yang akan dijalankan sehingga faktor ini haruslah diwaspadai. Faktor ancaman tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Karena terbatasnya ketesediaan modal petani sehigga petani Tidak melakukan pemupukan dan penyemprotanpada tanaman padi.
  2. Karena tanaman bersifat organik sehingga mengundanghama dan penyakit menyerang tanaman.
  3. Karena tanaman padi organik ini sangat rentan ( hama penyakit, tanaman menjadi busuk, gagal panen) sehingga terkadang hasil produksi yang dihasilkan rendah.
Hasil Analisis SWOT
Berdasarkan identifikasi faktor-faktor strategi internal dan eksternal yang ditemukan pada proses komunikasi dalam difusi inovasi padi semi organik di Kelurahan Pulokerto Kota Palembang, maka dapat dijelaskan bahwa strategi komunikasi dalam difusi inovasi adalah sebagai berikut :

a. Strategi SO
Strategi SO adalah strategi yang menggunakan kekuatan (strenghts) untuk memanfaatkan peluang (opportunities) yang ada. Berdasarkan analisis SWOT sebelumnya, maka alternatif strategi yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut :
  1. Memanfaatkan pengalaman usahatani padi untuk memudahkan adopsi padi organik.
  2. Menjalin kerjasama dengan pemerintah melalui program percontohan untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi mengenai kemajuan-kemajuan dalam berusahatani.
  3. Meningkatkan jumlah produktifitas untuk memenuhi permintaan pasar terhadap padi organik yang cukup tinggi
  4. Ikutserta dalam mensukseskan program pemerintah yaitu salah satunya menjadikan sumsel sebagai lumbung pangan nasional yang artinya sebagai subjek utama penghasil beras untuk terus meningkatkan produktifitasnya secara kontinyu. 
b. Strategi WO
Strategi WO adalah suatu strategi yang diterapkan dengan cara meminimalkan kelemahan (weaknesses) untuk memanfaatkan peluang (opportunities) yang dimiliki. Berdasarkan stratgi ini, maka alternatif yang dapat diambil adalah:
  1. Mengikuti program yang diadakan pemerintah sehingga dapat mengadopsi teknologi yang diberikan
  2. Meningkatkan pemeliharaan tanaman agar terhindar dari hama dan produksi tinggi.
  3. Meningkatkan kepekaan terhadap segmen pasar, ketika permintaan padi organik meningkat petani juga harus meningkatkan produktifitas karena harga jual yang tinggi akan menghasilkan keuntungan yang besar.
  4. Memanfaatkan sarana simpan pinjam modal seperti koperasi atau bank yang terdapat disekitar daerah usahatani.
  5. Meningkatkan keaktifandan keikutsertaan dalam kegiatansosialisasi dan penyuluhan yang dapat meningkatkan pengetahuan petani
c. Strategi ST
Strategi ST adalah suatu strategi yang dlakukan dengan cara menggunakan kekuatan (strengths) untuk mengatasi ancaman-ancaman (threats) yang ada. Adapun strategi-strategi yang dapat diterapkan dalam mempercepat proses difusi inovasi adalah :
  1. Perlunya kebijakan pemerintah yang mendukung adanya kelembagaan agar setiap proses usahatani dapat berjalan seimbang
  2. Menciptakan sendiri pupuk organik agar modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar namun perlakuan terhadap tanaman padi dapat dilakukan secara optimal.
  3. Meningkatkan kerja sama dengan pemerintahan setempat agar mendapatkan sarana dan prasarana dalam berproduksi
  4. Di bentuknya suatu lembaga seperti koperasi untuk membantu petani baik dalam simpan pinjam dana modal ataupun pemenuhan bibit serta peralatan usahatani (saprodi)
  5. Melakukan kegiatan pengendalian hayati dan pengawasan hama penyakit yang menyerang tanaman padi.
d. Strategi WT
Strategi WT adalah suatu strategi yang digunakan dengan cara meminimalkan kelemahan-kelemahan (weaknesses) dan menghindari semua ancaman (threats) yang ada. Strategi-strategi yang dapat diterapkan antara lain :
  1. Upaya kerja sama dengan pemerintah untuk mendapatkan modal/bantuan dana
  2. Perlunya pembinaan dari penyuluh dengan intensif secara berkesinambungan
  3. Memberikan pelatihan dan sosialisasi mengenai cara pengendalian hama dan penyakit tanaman
  4. Memberikan pendidikan non formal kepada petani untuk berinovasi ke arah yang lebih modern.
DaftarPustaka
  • Andoko, A. 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta.
  • Ban VD, Hawkins HS. 1999. Penyuluhan Pertanian.Yogyakarta: Kanisius.
  • Dirjen Pertanian Tanaman Pangan. 2000. Pelepasan Galur Padi sawah http://www.litbang.deptan.go.id/download/one. Diakses 5 Oktober 2008.
  • Dyah, W.E.P. 1998. Akses Wanita Tani dalam Memperoleh Informasi Teknologi Pertanian. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan. PDII-LIPI. Jakarta.
  • Effendy OU. 2000. Dinamika Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.
  • Franseda, M. 2013. Hubungan Strategi Komunikasi Penyuluhan Pertanian dengan Perilaku Petani di Desa Sirah Pulau Padang Ogan Komering Ilir. Fakultas Pertanian Unsri. Skripsi. Tidak dipublikasikan.
  • Levis LR. 1996. Komunikasi Penyuluhan. Bandung: Citra Aditiya Bakti. 
  • Moekijat. 1993. Teori Komunikasi. Penerbit Mandar Maju. Bandung.
  • Rakhmat J. 2001. Psikologi Komunikasi. Ed rev. Bandung: Remaja Rosdakarya. 
  • Soekartawi. 1994. Pembangunan Pertanian. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
  • Sriyanto, S. 2010. Panen Duit dari Bisnis Padi Organik. Agromedia. Jakarta.
  • Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta.
  • Tubbs LS, Moss T. 2001. Human Communication: Prinsip-prinsip Dasar. Penterjemah Deddy Mulyana. Bandung: Remaja Rosdakarya. 
  • Veco Indonesia. 2007. Menembus Batas Kebutuhan Produksi (Cara SRI Dalam Budidaya Padi). (Online). (http://ciifad.cornell.edu/sri/extmats/indoVecoManual07.pdf, diakses 27 Maret 2012).

Kelebihan Dan Kelemahan Pemikikan Ibn Khaldun Tentang Pengajaran Arab

Kelebihan Dan Kelemahan Pemikikan Ibn Khaldun Tentang Pengajaran Arab 
Ibn Khaldun (1332 – 1406) sosiolog dan filsuf sejarah yang juga berkecimpung dalam bidang pengajaran telah menciptakan konsep-konsep dan teori yang bermanfaat untuk dikembangkan. Berdasarkan pengamatannya yang jeli dan pengalamannya yang luas, ia telah menghasilkan pokok-pokok pikiran tentang pengajaran yang menarik perhatian sejumlah pakar pendidikan.

Di samping pengalaman dalam bidang politik, dia juga melibatkan diri dalam majelis ilmu pengetahuan, mengajar, serta tekun mengadakan halaqah di Tunisia, Fez, dan Andalusia. Bahkan ketika menetap di Mesir tradisi pengajaran halaqahnya mendapat sambutan luas di sana. Ibn Khaldun secara formal memberi kuliah di universitas terkemuka al-Azhar, dan beberapa sekolah tinggi lainnya di Mesir. Di universitas al-Azhar dia memberi kuliah tentang hadis dan fiqh Maliki. Di samping itu dia menerangkan teori-teori kemasyarakatan termasuk teori pengajaran yang dia tulis dalam Muqaddimah.

Melalui pengalaman yang luas sebagai pengamat yang jeli terhadap realitas pengajaran di zamannya, dia membangun teori-teori tentang pengajaran bahasa Arab yang dia tuangkan dalam kitabnya yang terkenal Muqaddimah. Ulasannya dalam bidang ini mendapat tempat yang luas dalam kitab tersebut, yaitu muqaddimah keenam dari bab pertama sepuluh pasal pada akhir bab kelima serta sebagian besar bab keenam dari karyanya.

Dengan menelusuri pemikiran-pemikiran Ibn Khaldun tentang pengajaran bahasa Arab yang relatif orisinal ini, akan diperoleh bekal yang sangat berharga dalam usaha untuk memahami implikasi penggunaan teori-teori dewasa ini yang didominasi oleh teori modern yang belum tentu cocok untuk diterapkan, mengingat bahasa Arab memiliki karakteristik, dan peran yang berbeda dari bahasa-bahasa lain. 

Kiranya sudah saatnya dalam kurun kebangkitan kembali dunia Muslim dewasa ini mengkaji pandangan-pandangan dan pemikiran filsof muslim. Menghidupkan kembali warisan pengajaran Islam.

Konsep pengajaran Ibn Khaldun, khususnya pengajaran bahasa Arab, menurut hemat kami belum dikaji secara komprehensif. Dengan kata lain masih langka studi dalam bidang ini yang dapat menguak nilai ilmiah dari aspek-aspek pemikiran Ibn Khaldun yang menyangkut pengajaran bagasa Arab. Kenyataan dalam dunia Muslim menunjukkan belum begitu populer teori-teori yang dikemukakannya, khususnya di kalangan para pengajar. Nashruddin Thaha menjelaskan ”Ibn Khaldun sebagai ulama besar, filosof dan negarawan telah banyak ditutur dan dibahas, tetapi sebagai ahli pengajaran, khususnya pengajaran bahasa Arab kurang disebut-sebut”.

Teori-teori pengajaran sebagaimana halnya teori-teori ilmu sosial lainnya yang diciptakan Ibn Khaldun diakui oleh sarjana pendidikan kontemporer sebagai teori yang menarik dan tergolong modern. Bernes dan Bekker, menyatakan sebagai teori-teori yang begitu modern gemanya sejauh yang dapat dibayangkan. D. B. Mac Donald menegaskan Ibn Khaldun mempunyai pikiran-pikiran psikologis yang menarik bahkan terdapat unsur modern di dalamnya. Omar al-Syaibani, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam yang banyak menjadikan referensi pemikiran Ibn Khaldun, memberikan predikat terhadapnya sebagai pendidik Islam terkenal. Demikian pula ’Athiah al-Abrasyi menemukan beberapa pemikiran Ibn Khaldun sejalan dengan pandangan fisof pendidikan modern.

Abdul Wahid Wafi, dalam studinya terhadap keseluruhan pemikiran Ibn Khaldun, menyimpulkan dia sebagai Imam (pemuka) dan mujaddid (pembaharu) dalam ilmu pendidikan dan psikologi pendidikan. Sejalan dengan Wafi, al-Ahwani pengarang kita al-Tarbiyah fi al-Islam, menegaskan Ibn Khaldun sebagai pencipta aliran baru dalam bidang pendidikan Islam yang mendahului masanya. Al-Ahwani mengkatagorikan aliran pendidikan Ibn Khaldun sebagai aliran sosiologis (mazhab ijtimaiyah). Aliran ini berbeda dari aliran sebelumnya, yaitu aliran ahlussunnah yang diwakili oleh al-Qabisi (935 – 1012); aliran falasifah yang diwakili Ikhwan al-Shafa, Ibn Maskawaih dan Ibn Sina, dan aliran mutasawwifah yang diwakili oleh al-Ghazali (w. 505 H.). Adapun keunggulan Ibn Khaldun sebagai pencetus aliran baru ini, ialah dalam hal ”dia meletakkan pengajaran pada tempat yang layak dalam kerangka umum faktor-faktor yang mempengaruhinya”. 

A. Kajian Teoritik
Ibn Khaldun sebagaimana kebanyakan ahli sebelum dan semasanya- menggunakan istilah al-Ta’li>m (pengajaran) dengan pengertian mirip (muradif) dengan pendidikan. Ibn Khaldun sebagaimana Pearsons (1902 -1979) tertarik pada skema yang holistik, suatu kerangka teoritik yang melihat objek (gejala) dalam suatu struktur yang berhubungan dengan gejala umum lainnya. Realitas sebagai keseluruhan, tidaklah timbul dari tumpukan yang bercerai berai. Akan tetapi, dia adalah kumpulan fenomena yang sejenis dan satu sama lainnya berhubungan serta mempunyai pengaruh timbal balik. Sebagai kaonsekuensi skema dasar ini Ibn Khaldun memandang realitas manusia merupakan bagian integral dari realitas yang lain. Atas dasar skema itu dia menempatkan pengajaran sebagai aktualisasi potensi-potensi manusia dalam kerangka umum dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Salah satu aksioma tentang pengajaran adalah teori fitrah. Manusia dilahirkan membawa bakat (potensi-potensi dasar) dan dia akan menjadi aktual serta berkembang setelah mendapat rangsangan dan pengaruh yang diterimanya. Manusia secara fitrah adalah baik. Ia menjadi jahat disebabkan faktor luar dari proses aktualisasinya. Karena itu, pengajaran menjadi keharusan alami untuk mengoptimalkan potensi ”baik” yang bersifat inhern tersebut.

Pandangan Ibn Khaldun tentang potensialitas dan aktualitas ini sebenarnya telah mendahului bukan saja teori empirisme (John Locke 1632 – 1704) dan nativisme (Schopenhauer 1788 - 1860), tetapi juga teori konvergensi (William Stern 1871 – 1938). Empirisme berpandangan bahwa jiwa adalah kosong yang menunggu isinya, berupa pengalaman, bagaikan kertas kosong yang menunggu isinya berupa tulisan dan perkembangan jiwa tidak ada batasnya. Berbeda dengan empirisne, nativisme berpandangan bahwa anak lahir membawa bakat kesanggupan dan sifat-sifat, serta ketentuan-ketentuan. Pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh apa-apa dan sesekali tidak berkuasa.

Kedua pandangan yang saling bertentangan tersebut melahirkan teori konvergensi William Stern. Sambil mengakui adanya nativus (faktor pembawaan), juga mengakui adanya pengaruh (pengalaman luar).

Pandangan Nativisme menutup kemungkinan adanya peranan faktor aktualitas (latihan atau pendidikan). Empirisme semata-mata mengandalkan faktor aktualitas. Ibn Khaldun sejalan dengan nativisme yang mengakui faktor potensialitas. Tetapi Ibn Khaldun memandangnya tanpa aktualisasi, potensi-potensi itu tidak akan berkembang secara nyata. Demikian juga aktualisasi tidak akan berfungsi apa-apa tanpa potensialitas, yang berarti sesuai dengan empirisme.

Secara umum, teori fitrah lebih mirip dengan teori konvergensi yaitu memadukan antara faktor potensialitas dengan aktualitas dalam perkembangan anak. Akan tetapi kalau dilacak lebih jauh, terdapat perbedaan yang essensial yaitu terletak pada pandangan tentang hakekat potensialitas itu sendiri. Pada dasarnya, potensialitas menurut Ibn Khaldun adalah baik (berakidah Tauhid), bukan sama sekali kosong.

Teori Fitrah ini merupakan titik tolak utama pemikiran Ibn Khaldun dalam menerangkan perkembangan. Dia mendasarkan pada hadis ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah”. Bertolak dari teori fitrah ini, ia memandang belajar (al-ta’allum) sebagai suatu fenomena sosial yang alami dalam mengaktualisasikan potesialitas-potensialitas manusia.

Proses aktualisasi belajar itu sendiri diterangkan oleh Ibn Khaldun dengan menggunakan konsep ”malakah” sebagai teori sentral. Inti belajar menurut dia adalah optimalisasi pencapaian malakah. Konsep malakah tersebut adalah sifat (hasil perolehan) yang menancap (mengakar) kokoh dalam jiwa, disebabkan belajar atau mengerjakan sesuatu berulang kali. Malakah berbeda dengan pemahaman (al-fahm) dan hapalan tanpa pemahaman. Malakah secara eksklusif dimiliki oleh mereka yang bersungguh-sungguh mendalami (al-syadd) disiplin ilmu tertentu. Malakah seluruhnya bersifat psiko-fisik, baik yang berhubungan dengan badan, maupun otak (al-dima’), hasil kemampuan fikir dan lain-lain seperti rasa. Dengan kata lain, malakah adalah pemilikan dan penguasaan yang mengakar, baik fisik (psikomotor), maupun psikis (kognitif dan afektif), sehingga mampu memproduksi kembali, serta mencerap dan menambah berbendaharaannya.

Sehubungan dengan teori malakah tersebut, Ibn Khaldun menampilkan pula hukum-hukum dasar dan prinsip umum yang menyertainya. Hukum-hukum tersebut, antara lain, belajar bertahap (al-tadriji), pengulangan (al-tikrar), kebiasaan (al-’adah), kausalitas, trial and error, prinsip kualitas individual, peniruan dan kontinuitas. Menurut hukum tadrij belajar yang efektif dalam arti mencapai malakah seoptimal mungkin, adalah dilakukan berangsur-angsur, setahap demi setahap. Adapun hukum al-tikrar dan al-’adah, belajar yang efektif adalah dengan pengulangan dan pembiasaan, yaitu memasukkan sesering mungkin rangsangan. Belajar menurut hukum kausalitas terjadi melalui mengetahui sebab akibat. Dengan kata lain, hukum tersebut berusaha mengetahui rentetan kausal dalam cara-cara yang benar dan sistematis akan memperkuat malakah itu sendiri. Lebih lanjut, menurut hukum trial and error, belajar terjadi dengan seleksi benar dan salah. Dengan cara ini subjek belajar akan semakin bijak dalam aktivitasnya. Belajar juga dilakukan dengan proses appersepsi, yaitu proses menemukan bermacam-macam variabel. Menurut prinsip kualitas individual, intensitas belajar sangat bergantung pada perbedaan kualitas individu. Proses belajar menurut hukum peniruan terwujud melalui visualisasi dan contoh-contoh konkrit. Prinsip kontinuitas menegaskan, belajar yang sistematis dan berkesinambungan akan memperkuat malakah. Apabila subjek belajar telah mencapai suatu malakah tertentu, maka akan mempunyai kesiapan untuk mencapai malakah dalam materi lainnya.

Hukum-hukum atau prinsip-prinsip yang diutarakan Ibnu Khaldun dijumpai pula dalam ajaran-ajaran Pestalozzi (1746-1827), Herbart, (1778-1841), Thorndike (1874-1949) dan Maria Montesori (1870-1952). Pestalozzi seorang ahli didik berkebangsaan Swiss mengatakan, bahwa pengajaran hendaknya dilakukan secara bertahap dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang terindera kepada yang rasional (abstrak), dan dari yang parsial kepada yang general. Pestalozzi pernah disebut-sebut sebagai penerus konsep Ibnu Khaldun. Sebagaimana Ibnu Khaldun, Herbart mengatakan, jiwa berisi tanggapan-tanggapan. Dalam belajar ada dua hal yang harus ditempuh, yaitu (1) memberikan tanggapan sejelas-jelasnya; dan (2) memasukkan tanggapan sesering mungkin ke dalam kesadaran. Menurut teori tanggapan Herbart, inti belajar disamping pemberian tanggapan yang jelas ialah ulangan; ulangan untuk memasukkan tanggapan sesering mungkin ke dalam kesadaran.

Thorndike dengan teori koneksionismenya menegaskan, belajar adalah proses pembentukan hukum asosiasi antara yang sudah dengan yang baru diketahui. Proses belajar menurut teori ini mengikuti tiga hukum, yaitu hukum kesiapan, latihan, dan hukum effek. Menurut hukum kesiapan, aktifitas belajar dapat berlangsung efektif dan efisien bila subjek telah memiliki kesiapan belajar. Menurut hukum latihan, koneksi antara kondisi dan tindakan akan menjadi lebih kuat bila ada latihan. Hukum effek menyatakan, aktifitas belajar yang memberikan efek menyenangkan cenderung akan diulang atau ditingkatkan. Namun jika efeknya tidak menyenangkan akan terjadi sebaliknya.

Sejalan dengan hukum peniruan, bahwa belajar perlu diperkaya dengan visualisasi dan contoh-contoh, dikembangkan kemudian oleh Maria Montessori. Alat peraga sangat penting dalam belajar. Alat-alat peraga ialah alat-alat pelajaran secara penginderaan yang tampak dan dapat diamati.

Melalui pengkajian terhadap teori-teori Ibnu Khaldun dengan teori-teori pengajaran kontemporer, khususnya pengajaran bahasa Arab diharapkan menemukan sikap eklektik yang proporsional. Kenyataan memang belum ada kesatuan pendapat mengenai proses transformasi dari potensialitas ke aktualitas dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa Arab. Karena itu masing-masing teori diharapkan dapat saling melengkapi.

B. Metode Penelitian
Sebagai kajian terhadap literatur, data diperoleh dari berbagai tulisan yang berkaitan dengan Ibn Khaldu>n dan Muqaddimah, sebagai sumber utama untuk mengungkapkan kehidupan Ibn Khaldu>n penulis merujuk kepada “Ibn Khaldu>n Riwayat dan Karyanya” karya Ali Abdul Wahid Wafi, At-Ta’ri>f bi Ibn Khaldu>n karya Ibn Khaldu>n, “Muqaddimah” karya Ibn Khaldu>n, “Ibn Khaldu>n dan Pola Pemikiran Islam” karya Fuad Baali, “Ibn Khaldu>n di Kalangan Pakar Barat dan Timur” karya Syafii Maarif, “Filsafat Sejarah Ibn Khaldu>n” karya Zainab al-Khudhairi dan “Filsafat Islam tentang Sejarah” karya Charles Issawi serta beberapa karya lain yang relevan. Hal-hal yang berkaitan dengan pengajaran penulis merujuk kepada beberapa karya, antara lain: karya Muhammad ‘At}iyah al-Abra>syi (Ru>h at-Tarbiyah wa at-Ta’li>m , at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha), Musthafa Amin (Tarikh at Tarbiyah), Muh}ammad Jawa>d Rid}a, (al-Fikr at-Tarbawi> al-Isla>mi}>), Ali Asyraf, Abdurrahman Mas’ud (Menggagas Format Pengajaran Nondikotomik), Konstelasi Pemikiran Pengajaran Ibn Khaldun karya Warul Walidi dan lain-lain.

Adapun metode yang dipergunakan pengolahan data ini lebih bersifat eklektis, kombinasi antara kualitatif dengan analisis isi (content analysis). Metode ini digunakan dengan pertimbangan bahwa kajian yang sedikit banyak bermuatan pemikiran /filosofis, tidak dapat ditembus dengan hanya satu metode saja. Menurut Syafi’i Ma’arif, apabila dalam hal seperti itu hanya dengan menggunakan satu metode saja sudah pasti akan memiskinkan bobot analisisnya, karena pemikiran manusia itu begitu kompleks, berdimensi banyak, dan setiap dimensi memiliki daya tariknya sendiri jika orang pandai melihatnya nelalui kacamata yang kritis dan sungguh-sungguh.

Pengertian Dan Fungsi Wawancara Menurut Para Ahli

Pengertian Dan Fungsi Wawancara Menurut Para Ahli 
Wawancara, menurut Lexy J Moleong (1991:135) dijelaskan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud-maksud tertentu. Pada metode ini peneliti dan responden berhadapan langsung (face to face) untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian. 

Menurut Sutrisno Hadi ( 1989:192 ), wawancara, sebagai sesuatu proses tanya-jawab lisan, dalam mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya, tampaknya merupakan alat pemgumpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data social, baik yang terpendam (latent) maupun yang memanifes. Wawancara adalah alat yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivations, serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya ; mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menggali masa lalu seseorang serta rahasia-rahasia hidupnya. Selain itu wawancara juga dapat digunakan untuk menangkap aksi-reaksi orang dalam bentuk ekspresi dalam pembicaraan-pembicaraan sewaktu tanya-jawab sedang berjalan. Di tangan seorang pewawancara yang mahir, wawancara merupakan alat pengumpulan data yang sekaligus dapat mengecek dan sebagai bahan ricek ketelitian dan kemantapannya. Keterangan-keterangan verbal dicek dengan ekspresi-ekspresi muka serta gerak-gerik tubuh, sedangkan ekspresi dan gerak-gerik dicek dengan pertanyaan-verbal.

Fungsi Wawancara 
Fungsi wawancara pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam tiga golongan besar: 

(1) sebagai metode primer
Wawancara dijadikan satu-satunya alat pengumpul data, atau sebagai metode diberi kedudukan yang utama dalam serangkaian metode-metode pengumpulan data lainnya.

(2) sebagai metode pelengkap
Ketika wawancara digunakan sebagai alat untuk mencari informasi-informasi yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain.

(3) sebagai kriterium
Pada saat-saat tertentu metode wawancara digunakan orang untuk menguji kebenaran dan kemantapan suatu datum yang telah diperoleh dengan cara lain, seperti observasi, test, kuesioner, dan sebagainya. Dalam fungsinya sebagai kriterium ini, wawancara harus diselenggarakan dengan berhati-hati sebab untuk dijadikan batu penilai, wawancara tidak boleh diragukan kemampuannya untuk menggali fakta-fakta secara teliti.


Dalam tiga golongan fungsi itu tidak implisit bahwa golongan yang satu mempunyai harga yang lebih tinggi dari yang lain. Sebagai metode primer, wawancara mengemban suatu tugas yang sangat penting. Sebagai pelengkap metode, wawancara menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Dan sebagai kriterium, wawancara menjadi alat yang memberikan pertimbangan yang memutuskan. Ditinjau dari segi tersebut, tiga fungsi pokok itu justru memperlihatkan bahwa wawancara merupakan suatu metode yang serba guna.

Jenis Wawancara 
a) Ditinjau dari segi banyaknya interviewee yang terlibat, wawancara dikelompokkan menjadi 2 :

o Wawancara Pribadi
Dalam wawancara pribadi tiap-tiap kali wawancara hanya berhadap-hadapan secara face to face seorang pewawancara dengan seorang subyek wawancara. Wawancara secara ini memberikan privacy yang maksimal sehingga kemungkinan untuk memperoleh data yang intensif memang sangat besar. Jika checking dapat dilakukan dalam wawancara itu juga, maka ketelitian dan kemantapan informasi yang diperoleh akan dapat dicapai secara maksimal. Kecuali itu dalam wawancara personal pengobservasian ekspresi dan gerak-gerik yang diwawancara akan dapat dilakukan lebih mudah. Ini akan memberikan bantuan yang tidak kecil kepada pewawancara dalam memberikan pernilaian terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh yang diwawancara, pernilaian mana akan memberikan kesempatan kepada pewawancara untuk memutuskan apakahia perlumelancarkan suatu probing atau tidak, perlu memberikan paraphrasing atau tidak.

o Wawancara Kelompok
Dalam wawancara kelompok seorang pewawancara (atau lebih) sekaligus menghadapi dua orang atau lebih yang diwawancara. Hadirnya dua orang yang diwawancara itu sebenarnya bukan ciri mutlak dari wawancara kelompok.

Ditinjau dari segi waktu dan tenaga penyelenggaraan, wawancara kelompok Belum tentu lebih efisien daripada wawancara pribadi. Dalam praktik, tidak jarang wawancara secara kelompok memakan waktu dan tenaga yang lebih banyak. Hal ini terjadi jika anggota-anggota kelompok yang diwawancara saling berebutan ingin memberikan keterangan atau memberikan penjelasan-penjelasan yang pada hakekatnya hanya mengulang-ulang apa yang sudah diterangkan lebih dahulu oleh rekan-rekannya, atau di antara sesama yang diwawancara tidak terdapat kesamaan pendangan atau keterangan sehingga menimbulkan semacam debat di antara mereka sendiri. Akan tetapi konsumsi waktu dan tenaga akan dapat dihemat dalam wawancara kelompok jika pertanyaan hanya mengenai fakta-fakta obyektif yang sederhana, keadaan-keadaan yang tidak menimbulkan perselisihan, dan pendapat-pendapat yang tidak simpang-siur.

Wawancara kelompok sangat berguna sebagai alat pengumpulan data yang sekaligus difungsikan sebagai proses check crosscheck. Jika dapat dibentuk suasana sahabat karib yang sebebas-bebasnya, wawancara kelompok tidak hanya menjadi alat untuk memperoleh informasi tentang suatu konteks sosial yang luas dan lengkap, tetapi juga informasi-informasi tentang aksi-reaksi pribadi dalam konteks sosial itu. Para anggota dapat saling mengontrol jawaban rekan-rekannya, melengkapi mana-mana yang kurang, dan lebih menjelaskan mana-mana yang dipandang masih samar-samar atau kabur. 

b) Ditinjau dari struktur wawancaranya, wawancara dikelompokkan menjadi 3 :
o Wawancara tidak berstruktur, tidak berstandard, informal, atau berfokus
Wawancara ini biasanya diikuti oleh suatu kata kunci, agenda atau daftar topik yang akan dicakup dalam wawancara. Namun tidak ada pertanyaan yang ditetapkan sebelumnya kecuali dalam wawancara yang awal sekali.

Jenis wawancara ini bersifat fleksibel dan memungkinkan peneliti mengikuti minat dan pemikiran partisipan. Pewawancara dengan bebas menanyakan berbagai pertanyaan kepada partisipan dalam urutan manapun bergantung pada jawaban. Hal ini dapat ditindaklanjuti, tetapi peneliti juga mempunyai agenda sendiri yaitu tujuan penelitian yang dimiliki dalam pikirannya dan isyu tertentu yang akan digali. Namun pengarahan dan pengendalian wawancara oleh peneliti sifatnya minimal. Umumnya, ada perbedaan hasil wawancara pada tiap partisipan, tetapi dari yang awal biasanya dapat dilihat pola tertentu. Partisipan bebas menjawab, baik isi maupun panjang pendeknya paparan, sehingga dapat diperoleh informasi yang sangat dalam dan rinci.

Wawancara jenis ini terutama cocok bila peneliti mewawancarai partispan lebih dari satu kali. Wawancara ini menghasilkan data yang paling kaya, tetapi juga memiliki dross rate paling tinggi, terutama apabila pewawancaranya tidak berpengalaman. Dross rate adalah jumlah materi atau informasi yang tidak berguna dalam penelitian.

o Wawancara Semi Berstruktur
Wawancara ini dimulai dari isu yang dicakup dalam pedoman wawancara. Pedoman wawancara bukanlah jadwal seperti dalam penelitian kuantitatif. Sekuensi pertanyaan tidaklah sama pada tiap partisipan bergantung pada proses wawancara dan jawaban tiap individu. Namun pedoman wawancara menjamin bahwa peneliti mengumpulkan jenis data yang sama dari para partisipan. Peneliti dapat menghemat waktu melalui cara ini. Dross rate lebih rendah daripada wawancara tidak berstruktur. Peneliti dapat mengembangkan pertanyaan dan memutuskan sendiri mana isyu yang dimunculkan.

Pedoman wawancara berfokus pada subyek area tertentu yang diteliti, tetapi dapat direvisi setelah wawancara karena ide yang baru muncul belakangan. Walaupun pewawancara bertujuan mendapatkan perspektif partisipan, mereka harus ingat bahwa mereka perlu mengendalikan diri sehingga tujuan penelitian dapat dicapai dan topik penelitian tergali. 

o Wawancara berstruktur atau berstandard
Peneliti kualitatif jarang sekali menggunakan jenis wawancara ini. Beberapa keterbatasan pada wawancara jenis ini membuat data yang diperoleh tidak kaya. Jadwal wawancara berisi sejumlah pertanyaan yang telah direncanakan sebelumnya. Tiap partisipan ditanyakan pertanyaan yang sama dengan urutan yang sama pula. Jenis wawancara ini menyerupai kuesioner survei yang tertulis. Wawancara ini menghemat waktu dan membatasi efek pewawancara bila sejumlah pewawancara yang berbeda terlibat dalam penelitian. Analisis data tampak lebih mudah sebagaimana jawaban yang dapat ditemukan dengan cepat. Umumnya, pengetahuan statistik penting dan berguna untuk menganalisis jenis wawancara ini. Namun jenis wawancara ini mengarahkan respon partisipan dan oleh karena itu tidak tepat digunakan pada pendekatan kualitatif. Wawancara berstruktur bisa berisi pertanyaan terbuka, namun peneliti harus diingatkan terhadap hal ini sebagai isyu metodologis yang akan mengacaukan dan akan jadi menyulitkan analisisnya

Proses Wawancara 
Untuk memperoleh informasi yang rinci dan obyektif, seorang penyelidik dalam mengadakan wawancara tidak dapat bersikap egois dalam arti hanya mementingkan kebutuhannya sendiri semata-mata tanpa memperhatikan situasi orang yang diwawancara. Benar ia memerlukan data, data yang seteliti-telitinya dan sebanyak-banyaknya. Tetapi sementara ia harus dapat menggali fakta-fakta yang sedalam-dalamnya, ia tidak bisa mengabaikan perasaan dan reaksi benda hiduup yang simpati dan antipati, serta mempunyai kebebasan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bisa tersinggung oleh sikap dan kata-kata, dan ia bisa berbuat acuh-tak-acuh atau memberi jawaban yang tidak semestinya. Oleh sebab itu tak akan pada tempatnya jika penyelidik bersikap tak mau tahu terhadap kenyataan itu, tetapi ia mengharapkan informasi yang sebaik-baiknya dan secukup-cukupnya dari yang diwawancara.

Tahapan yang dapat digunakan dalam wawancara adalah: 
  • Tentukan jenis wawancara yang akan digunakan. Kalau penelitian kualitatif, sebaiknya gunakan wawancara tidak terstruktur untuk pewawancara yang sudah berpengalaman, atau semi terstruktur untuk pewawancara yang belum berpengalaman. 
  • Rencanakan item pertanyaan dengan baik sehingga pelaksanaan akan lebih efisien. Pewawancara harus mengerti tentang topik penelitian dan informasi apa saja yang akan diungkap dari responden. 
  • Bagi pewawancara yang belum berpengalaman, tidak ada salahnya untuk melakukan latihan, atau simulasi terlebih dahulu. Bisa juga dengan mengikuti proses wawancara yang dilakukan oleh rekan yang lebih senior. 
  • Gunakan sarana semaksimal mungkin sehingga informasi yang ada tidak terlewatkan. Buatlah panduan dengan checklist (seperti metode dokumentasi) atau gunakan alat perekam audio atau video. 
  • Aturlah waktu dengan baik agar pelaksanaan wawancara dapat berjalan dengan efektif dan jika perlu dapat dilakukan tatap muka lebih dari satu kali sesuai dengan keperluan penelitian. 
Waktu dan tempat wawancara harus dirundingkan sebaik-baiknya agar penetapan waktu dan tempat tidak terlalu menekan keadaan yang diwawancara. Akan lebih baik jika penetapan waktu dan tempat itu diserahkan kepada yang diwawancara. Jika yang diwawancara menginginkan privacy, hal ini hendaknya tidak menjadikan keberatan pewawancara. Field & Morse (1985 dalam Holloway & Wheeler, 1996) menyarankan bahwa wawancara harus selesai dalam satu jam. Sebenarnya waktu wawancara bergantung pada partisipan. Peneliti harus melakukan kontrak waktu dengan partisipan, sehingga mereka dapat merencanakan kegiatannya pada hari itu tanpa terganggu oleh wawancara, umumnya partisipan memang menginginkan waktunya cukup satu jam. Peneliti harus menggunakan penilaian mereka sendiri, mengikuti keinginan partisipan, dan menggunakan waktu sesuai dengan kebutuhan topik penelitiannya. Umumnya lamanya wawancara tidak lebih dari tiga jam. Jika lebih dari tiga jam, konsentrasi tidak akan diperoleh bahkan bila wawancara tersebut dilakukan oleh peneliti berpengalaman sekalipun. Jika dalam waktu yang maksimal tersebut data belum semua diperoleh, wawancara dapat dilakukan sekali lagi atau lebih. Beberapa kali wawancara singkat akan lebih efektif dibanding hanya satu kali dengan waktu yang panjang.

Berbicara dengan orang lain merupakan aktivitas yang relatif mudah, tetapi melakukan wawancara merupakan kegiatan yang tidak mudah. Hal ini disebabkan wawancara memiliki batas-batas metodologis yang harus dipatuhi oleh pewawancara, sedangkan berbicara (ngobrol) tidak memiliki metodologi tertentu, dalam arti orang boleh saja mengajak ngobrol lawan bicaranya sesuka hati tanpa dikendalikan oleh misi pembicaraannya. 

Untuk melaksanakan wawancara dengan baik, maka ada beberapa faktor utama yang harus diperhatikan dalam wawancara yaitu: bagaimana pewawancara, apa isi wawancara, bagaimana situasi wawancara, dan bagaimana kesiapan responden. Paling utama di dalam melakukan wawancara adalah memperhatikan kemampuan pewawancara dalam mengendalikan wawancaranya. Efektivitas wawancara banyak tergantung pada pewawancara. Dalam beberapa situasi, diketahui, perasaan rasa aman dari pewawancara atau responden juga menentukan makna jawaban yang dibutuhkan. Dalam keadaan yang tidak menjamin rasa aman, kadang kala orang akan bertanya lain atau menjawab lain dari apa yang sesungguhnya dilakukan, ini semua agar mereka terhindar dari kesulitan yang dibayangkan akan terjadi.

Pedoman Wawancara 
  • Memberi bimbingan tentang pokok yang ditanyakan
  • Menghindarkan kemungkinan lupa tentang beberapa persoalan yang relevan terhadap pokok penyelidikan
  • Meningkatkan wawancara sebagai metode yang hasilnya memenuhi prinsip komparabilitas. (Hadi, 1992)

Pedoman wawancara berstruktur
  • Tentukan tujuan wawancara
  • Buat batasan dari tujuan secara operasional
  • Jabarkan operasioanlisasi dalam rincian

TIPS: tanyakan pada diri sendiri, mengapa mengajukan suatu pertanyaan?
Pedoman wawancara tidak terstruktur
  • Tentukan tujuan wawancara
  • Jabarkan tujuan dalam garis besar informasi yang ingin diperoleh
  • Tidak perlu ada pertanyaan rinci, gunakan pedoman bahwa “peneliti/pewawancara adalah alat”.

Pewawancara
  • Memberikan penjelasan secukupnya pada responden tujuan wawancara
  • Mengikuti pedoman : urutan pertanyaan, penggunaan kata, tidak melakukan improvisasi
  • Mengendalikan wawancara, tetapi idak terlibat ( tidak sugeftif, beropini, menginterpretasikan pertanyaan). (Fontana & Frey, 1994)
Sumber – Sumber Kesalahan 
  • Jawaban socially desirable
  • Pada tipe kuesioner, sumber kesalahan cenderung terletak pada penggunaan katanya
  • Pada teknik bertanya, kasus penambahan kata sering menjadi sumber kesalahan dalam wawancara. (Fontana & Frey, 1994)
Kesalahan melaporkan hasil suatu wawancara dapat dicari dari sumber-sumber sebagai berikut: 
  • Error of Recognition: disebabkan oleh ingatan pewawancara tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Kegagalan ingatan untuk mereproduksi apa yang sudah ditangkap. Usaha untuk menekan error ini sampai sekecil-kecilnya harus ditujukan kepada menyingkirkan sebab-sebabnya. 
  • Error of Omission. Error ini terjadi jika banyak hal yang seharusnya dilaporkan, dilewatkan saja dan tidak dilaporkan. Semua laporan wawancara dalam praktiknya selalu mengalami error ini. Error of omission terjadi yang paling sedikit pada wawancara yang dicatat secara mekanik (dengan tape recorder, dictaphone, dan semacamnya), lebih banyak pada wawancara yang dicatat dengan kode-kode, lebih banyak lagi pada wawancara yang dicatat secara biasa, dan paling banyak pada wawancara yang tidak dicatat. 
  • Error of Addition. Error ini terjadi karena penulis laporan telah terlalu melebih-lebihkan atau telah memasak jawaban-jawaban yang diwawancara. Kecenderungan menambah-nambah ini dapat dicegah jika pelapor tidak mengenalkan logikanya sendiripada logika orang yang diwawancara. 
  • Error of Substitution. pelapor tidak dapat mengingat-ingat dengan benar apa yang sudah dikatakan oleh yang diwawancara, tetapi dalam laporannya mencoba mengganti apa yang ia lupakan dengan kata-kata lain yang mempunyai arti yang lain daripada yang dimaksudkan oleh penjawab. Ada baiknya jika ada hal-hal yang khusus atau meragu-ragukan diterangkan artinya dan dicatat sebaik-baiknya. 
  • Error of Trasposition. Error ini terjadi jika ingatan pelapor tidak mampu mereproduksi keurutan kejadian menurut waktu atau hubungan antara fakta-fakta seperti apa adanya, dan pelapor menuliskan keurutan atauhubungan itu tidak sperti adanya. Error ini lebih jarang terjadi daripada error of omission, tetapi lebih sering daripada error of addition dan error of substitution.